Looking from the 'Kepo' eyes

Looking from the 'Kepo' eyes
the model is not me, i'm just the photographer of the photographer :)
Tampilkan postingan dengan label Social Relationship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social Relationship. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2012

Kekhawatiran Emak-emak








Semenjak ada Kay, aku mengikuti mailing list asiforbaby dan mailing list sehat. Isinya adalah mengenai sharing tentang ASI, pertumbuhan & perkembangan anak-anak, kesehatan/penyakit, atau curcol ibu-ibu...



Semenjak ada si mungil ini, jika ada perubahan sedikiitttt aja sama si mungil, aku aktif browsing mengenai perubahan-perubahan itu. Dari perubahan yang bikin worry tingkat tinggi seperti GTM (Gerakan Tutup Mulut), sampai perubahan yang bikin H2C dikit-dikit seperti rambut yang numbuhnya malu-malu atau suka garuk-garuk kepala dan narik kuping kalau ngantuk.



Semenjak ada makhluk imut ini, aku selalu ngobrol n sharing sama sesama teman emak-emak, untuk nanya hal-hal apapun yang membuatku kepikiran. Misalnya menu makanan, kebiasaan menidurkan anak, kebiasaan kasih makan anak, dll dll dll dll...



Semenjak ada my 9months baby ini, i can't stop worrying. And sometimes i think i'm going crazy.



Tapi ternyata, semua emak-emak di dunia memang sudah gila.



Traffic mailing list aku dalam satu hari bisa mencapai ratusan email. Isinya, ibu-ibu yang bertanya tentang perilaku/gejala pada anaknya, dan seringkali diiringi kata-kata 'aku panik nihhh....', 'normal ga yah?', 'ada yang pernah ngalamin gini ga yah?', 'aku khawatir nih...', 'Duh sampe streeesss nih!". Dan seringkali pertanyaan/kasus yang sama mondar mandir ditanya berkali-kali.




Forum-forum tentang kesehatan anak di laman tertentu banyak sekali mendapatkan respon dari emak-emak, 'anakku begini....normal ga yah....anakku begitu, normal ga yah....'. Thread terakhir yang pernah kubaca di salah satu laman adalah mengenai Berat dan Tinggi Badan rata-rata setiap anak. Respon untuk thread itu adalah sebanyak 40 respon, isinya seputar 'TB anakku xx dengan berat x, normal ga yah?', 'Anakku kegendutan ga yah?', 'Anakku kok kurus yah?'



And also the 'sometimes doesn't make any sense' worriness of emak-emak girlfriends, such as :




"Anak gue suka cegukan...kenapa yah?"


"Gue masuk angin nih, masih boleh nyusuin ga yah?"


"Tangan anak gue suka dingin, kenapa ya?"


"Kok gigi anak gue belom numbuh ya...?"
"Rambutnya tipis nih, apa harus gue cukur lagi yah?"


"ASI gue kayaknya ga cukup deh..."


"Masuk angin ga yah gue bawa jalan-jalan?"


"Gue takut dia keseleo gara-gara tadi ngamuk nangis gitu..."


"Aduhhhh anak gue sumeng nih, 37.5, kenapa ya..."



Welcome to the crazy world of motherhood.


If we're not crazy then we're not normal.


Rabu, 09 Maret 2011

Musuh dikala hamil : Perokok


I really hate them so much right now.

Saya gak anti merokok, dulupun saya merokok namun sekarang sudah berhenti (iyalah apalagi sedang hamil!). Saya juga ga anti perokok, apalagi anti teman-teman yang merokok. Namun sekarang selama hamil, saya merasa (hampir) semua perokok itu intoleran, keras kepala, sembrono, tidak perhatian, tidak empati, sok keren. Dan kami kaum yang tidak merokok (beserta ibu hamil) adalah kaum minoritas yang disepelekan.

Dulu waktu masih hamil muda saya masih maklum, karena mungkin orang tidak 'ngeh' saya hamil, jadi mereka tetap cuek merokok. Tapi sekarang ketika perut saya gendut, dan tetap ada orang mengambil rokok dan menyulutnya di depan saya..... &*$&#*^$&^&^$&#%^$^$#@^*%$@^*!%!

Hei smokers, do u know that ASAP ROKOK berbahaya bagi ibu hamil dan janin karena bisa menyebabkan :

  • Kehamilan di luar rahim
  • Abortus (keguguran) spontan
  • Plasenta menutupi mulut rahim (plasenta previa)
  • Plasenta lepas (abrupsia plasenta)
  • Ketuban pecah dini
  • Infeksi kantong cairan ketuban (chorioamnionitis)
  • Kelahiran prematur
  • Bayi lahir dengan berat badan rendah
  • Janin meninggal dalam rahim

Rasanya peraturan-peraturan tentang merokok di tempat umum itu such a bullsh*t, yang paling konyol adalah pada waktu saya pergi ke pusat perbelanjaan ITC Amba*****. Di salah satu lantai yang khusus melakukan penjualan handphone terasa bagaikan bunker rokok. Halooooo, itu adalah ruangan tertutup dan ber-AC! Kepala saya sampai sakit rasanya, rambut bau rokok belum lagi emosi karena memikirkan begitu banyak orang yang dengan cuek ngepul rokok berbatang-batang dan di depan muka saya yang lagi gendut ini!

Tak terhitung lagi jumlahnya ketika saya sedang berada di tempat makan umum. Kadang saya harus extra effort mencari meja yang tidak bersebelahan dengan para perokok. Bahkan ketika sudah duduk di tempat duduk steril, tetap saja belakangan ada serombongan perokok cewek dan cowok yang duduk di sebelah saya, sambil menggondol-gondol kotak rokok dan korek apinya, sambil tangannya bersiap-siap menyulut rokok. Biasanya kalau sudah begitu saya sekarang sudah cuek ngomong dengan keras-keras 'Pergi yuk, bau rokok!!!" sambil pasang muka bete. Tapi tetap saja kita kaum 'minoritas' harus tersingkir.

And the winner goes to....

Suatu malam di daerah Pecenongan, saya dan hubby sedang menikmati seafood tenda. Di belakang hubby ada sepasang ibu-ibu dan bapak-bapak kurang lebih usia diatas 35 tahun sedang makan berhadap-hadapan. Kondisi sang istri sedang hamil. Setelah mereka selesai makan, jreng jrenggggg si suami merokok aje di depan istrinyaaaa dengan asap disembur-sembur ke depan istrinya!!!!!!!!
(Kalo gue jadi bininya tuh cangkang kepiting, udang, beserta sisa-sisa sambel bisa gue timpuk ke depan mulutnya yang penuh asap rokok.)

Really, smokers! I cannot tolerate you right now. Whatever your reasons to smoke are, they just doesn't make any sense. You just a bunch a pathetic people who are try to make biggest rationalization to your stupid habit. I can quit, so does every people in this world. Control the needs of your mouth, especially in front of pregnant women!




Jumat, 14 Januari 2011

The The Myth (baca : Dedemit :D)



Banyaaaakkkkk banget mitos/pamali sepanjang saya hamil ini...(and there will be more).

Kadang bingung mesti percaya/gak....kalau sudah tahu tp ga dijalanin, jadi tidak enak perasaan. Jadi kadang-kadang mendingan gak tahu aja deh, arup-arup ogeb (baca : pura-pura bego hehehe)...

Tapi, banyak yang terlanjur sudah dikasih tahu...hehehe...

1. Katanya sih, kalau selama hamil demen makan sayur, anaknya perempuan.... Kalau demen makan daging, anaknya laki-laki...

2. Katanya juga, kalau maboknya parah, anaknya perempuan....kalau kebo, anaknya laki-laki...

3. "Jangan gelap-gelapan di kamar....pamali!"

4. "Awas jangan duduk di depan pintu....pamali"

5. "Nanti suaminya jangan ngantungin serenceng kunci di kantong ya... soalnya kalau anaknya cowok, p*lirnya bisa kondor..."

6. "Kalau cuci tangan, habis itu di lap yang bener bener keriiingg yah, jangan meper ke baju..."

7. "Nanti kalau diatas 5 bulan, jangan duduk di lantai yah, ari-arinya bisa nempel..."

8. "Eh jangan minum dingin-dingin! Nanti anaknya gede di dalem loh!"

9. "Jangan makan cabe woy! Nanti anak lo botak loh!" (pas deh cabe lagi mahalll hehehehe)

10. "Katanya sih jangan minum air kelapa ijo sebelum usia hamil 7 bulan...."

11. "Itu di beha jangan lupa dipenitiin bangle (sejenis rempah-rempah seperti jahe -red), supaya enggak 'ditempelin' (makhluk -red)"

12. (Sambil memberikan pisau lipat kecil)"Ini dibawa-bawa kemana-mana ya, kalau bisa dipenitiin di beha, untuk menangkal bala..." (bok! kalau digabung sama nomor 11, beha ku jadi banyak embel2nya yaaaa....nanti si hubby, eh aku, repot kalau nyopotinnya :p)"

13. (Ceritanya saya sedang keluar pagar membukakan pintu hubby sekitar jam 20.00)..."Ehhh masuk...masuk, pamali keluar malem-malem!"

14. "Nanti kalau udah diatas 7 bulan, banyak makan kangkung yah, supaya anaknya 'muter' jadi bisa lahirin normal..."

15. Kalau pas hamil jadi cantik dan bersih...katanya anaknya perempuan...

16. Tapiiii ada lagi yang bilang kalau pas hamil jadi juelek n jerawatan, tandanya anak perempuan, soalnya cantiknya diambil sama si anak perempuan... (mana yang benerrrr dooonnggg...)

17. "Jangan banyak-banyak makan bakso, nanti anak lo palanya botak kayak bakso loh..."

18. N the last one (that i remember) dan saya coba lakukan adalah :
(sambil bikin onde pas hari Ibu), "Coba deh ondenya ditusuk pake tusuk sate, trus dibakar pelan-pelan...kalau ondenya meletak, berarti anaknya perempuan, kalau ondenya jadi mancung tapi gak meletak, tandanya anaknya laki-laki..."

dan inilaaahhhhh hasil USG Onde Bakar.....

perempuaaannnnnnnnnn......

Hihihihi, lucu-lucu yah mitosnya...
Yah sepanjang bisa dilakukan, saya lakukan saja....semoga si dede sehat yah :)

Thanks my friends and families for these myths, i know u care a lot :)

Selasa, 03 Agustus 2010

The Famous Globe


Akhir-akhir ini ada beberapa teman-temanku di FB & BB mengganti profile picture mereka. Kurang lebih 2 bulan ini aku amati ada foto yang similar diantara mereka. Awalnya aku hanya perhatikan perubahan profile picture 1 orang, seiring dengan sedang gencarnya promosi pembukaan satu tempat hiburan baru di Singapore.

“Wow, doi sudah main kesana!”, begitu decakku waktu pertama kali melihat fotonya mejeng di tenga bundaran bola besar itu.

Setelah orang pertama di daftar friend aku memasang foto itu, berganti-gantianlah temanku pasang foto si bola bundar itu dengan gaya macam-macam. Ada yang sendiri, sama pacar, sama anak, dll.

Man, this is starting to be the trend! Everybody is going there and put the picture on their profile sebagai tanda bahwa ‘Woi gue uda kesana my man!’

Sepertinya memang temanku gaul-gaul, and they always update especially in this trend!

Ini beberapa foto gallery of my trendsetter friends...








*pren, aku pinjem foto2nya ya, identitas kalian dirahasiakan kok, kecuali ada yang ngenalin baju n gaya kalian kekekek


Minggu lalu, aku dan hubby dapat kejutan tiket akomodasi ke Singapore dari teman-teman baik kami (oh friends, we love u so much!). Betul deh kita tidak merencanakan tadinya mau ke Singapore, inipun kami dikejutkan dan tidak dikasih tahu lokasi tujuan kami sampai pada saat akhir. And Voila!! We end up at Singapore, and of course as an update, trendy, cool, hip, chick city girl dan boy, we go there! The famous big ball, here I come, finally I see you personally!

Secara langsung si Globe memang keren banget ada asep-asepnya gitu (udik mode on). Begitu sampai ke kompleks tempat hiburan itu, mataku langsung tertuju ke Globe itu, dan langsung kata pertama yang keluar di mulut gue,

“FOTO, aku mau foto!! Fotoooo!!...”, (gak mau ketinggalan tren abis)

Ah! Ternyata gue pun murahan!

Why we always live in the scope of trendsetter, want to feel comfort if we already conform with the massive trends people use/do.

Say Blackberry, Facebook, iPad, iPhone, Twitter, and after all, THIS GLOBE thing.

Yah lumayan deh bayar Sing $ 66 per orang untuk tiket masuk, dapet oleh-oleh foto di depan si bola ini.

MUWAKAKAKAKKAAKAKAKAKKA.....


orang udik masuk kota...

Kamis, 27 Mei 2010

Aku=Sensasi




“Apakah memang Dewi Persik sengaja selalu membuat sensasi untuk mendongkrak popularitasnya?”

Tadi pagi begitu ungkapannya ketika infotainment wara-wiri di pagi hari menemani waktu beberes saya sebelum pergi beraktivitas. Pertanyaan retoris yang diucapkan oleh si pembawa acara tidak pelak membuat saya menengok sebentar. Oh lagi-lagi dia membuat berita, kali ini soal kawin siri nya. Tapi terlepas dari beritanya tidak terlalu penting sebenarnya, tapi saya lebih tertarik dengan satu kata menyolok yang disebutkan oleh si pembawa acara, sensasi.
Kalau dilihat dari artinya, banyak sekali arti sensasi itu, kebanyakan ada yang berkaitan dengan reaksi fisiologis, tapi untuk konteks ini coba saya ambil dari definisi terdekat dengan cerita si goyang gergaji diatas.

A cause of such feeling or interest (www.dictionary.com). Atau dengan kata lain, penyebab sebuah perasaan atau ketertarikan. Sudah barang pasti sensasi yang disebutkan mengenai Dewi Persik bisa dikategorikan penyebab sebuah perasaan atau ketertarikan (setidak-tidaknya bisa membuat saya menengok ke arah TV sebentar ketika sedang mengeringkan rambut :P). Tapi kalau dilihat-lihat lagi, soal sensasi ini jadi membuat saya berpikir lebih dalam, kenapa ya manusia yang membuat sensasi bisa menjadi populer? Kalau memang begitu, kita semua butuh menjadi sensasi, setidaknya sebagai pengakuan diri bahwa kita itu ‘ada’.

Kalau dipikir-pikir sepanjang hidup, teman-teman saya memang tidak ada yang lepas dari sensasi. Dari jaman SD pun waktu itu ada teman yang bikin sensasi dengan pacaran sama orang SMA (sekarang saya baru sadar kalau itu bisa dibilang Pedofilia, dulu sih kelihatannya keren banget tuh si Joan, sepertinya dewasa banget bisa ditaksir anak SMA). Hasilnya tentu saja, si Joan jadi menaikkan kelasnya di antara teman-teman SD menjadi ‘high quality jomblo’, menggeser normatif sedikit bahwa anak SD fokusnya bukan hanya bermain saja, tapi sudah boleh mulai pacaran. Toh dia berhasil membuat image baru minimal bagi teman-teman dekatnya, tak pelik salah satu teman peers nya, Dian, langsung ikutan mendaftarkan diri dalam perlombaan model catwalk setelah melihat Joan memamerkan foto2 pose nakal dengan lipstick merah dan gaun hitamnya, persis seperti model sungguhan (bukan murid SD).

Waktu SMA lain lagi, entah kenapa bandel itu bisa membuat seseorang sangat populer, dan yang lebih membingungkan lagi, perilakunya ditiru oleh teman-temannya, yang labelnya seharusnya alim. Sebut saja si Leony, cantik memang, wajahnya oriental dengan tubuh langsing. Bertemannya dengan geng (you know who they are…) yang kontroversial, merokok sembunyi-sembunyi, pulang sekolah langsung kelayapan, madol dari sekolah. Terakhir terdengar kabar bahwa dalam 1 bulan, absent kehadiran di kelasnya hanya sampai pada angka 10 hari! Sisanya tentu saja dihabiskan dengan madol dari sekolah, pagi-pagi ceritanya sarapan di tukang bubur Abang Iman, setelah bel sekolah berbunyi, tentu saja bukannya masuk ke kelas, tapi tancap gas masuk ke school of sociality, the malls. Tapi toh gayanya itu tetap saja ditiru, dan Ia tetap jadi pembicaraan sekolah sebagai ratu lebah. Kalau dibuat kurva normal, mungkin dia yang menggeser poin jumlah kemadolan dalam satu sekolah, dari 0-15 menjadi 5-30. Okay, I’m confessed waktu itu juga saya juga salah satu yang kepingin ikut-ikutan madol, walaupun diluar kebiasaan tapi rasanya memang memberikan sensasi! Minimal hampir merasa disetarakan dengan geng sensasional (bandel) itu.

Kalau diingat lucu memang, stigma dulu sebagai remaja, yang kata para ahli psikolog adalah masa mencari jati diri, penuh pengaruh dari pihak luar sehingga tidak heran teman-teman SMA yang alim itu ikut-ikutan mencoba bandel dengan madol dari sekolah. Tapi kalau melihat fenomena sensasi yang kutipannya saya lihat tadi pagi sebelum ke kantor, sepertinya masa mencari jati diri dan mencari sensasi sudah jadi proses yang continous. Coba tengok sekitar Anda dan cari seorang yang memiliki aura selebritis (baca sensasional). Kalau disuruh memilih, saya agak bingung karena semua rekan di sekitar saya semuanya memancarkan aura selebritis yang berbeda. Persis seperti hewan yang mengeluarkan feromon untuk menarik pasangannya. Begitu juga manusia, semuanya mengeluarkan ‘feromon’nya sendiri, untuk menunjukan bahwa dirinya exist, setidaknya bagi peersnya. Di peers teman saya, bahkan salah satu teman paling pendiam pun sudah menjadi sensasi, Ia menjadi populer di kelompok sebagai si Paling Pendiam, yang selalu pasrah saja kalau dicela temanya.

Terkadang kita berlomba-lomba untuk menjadi sensasional. Tapi kalau menilik lagi dari definisi Sensasi tidak dijelaskan apakah ‘A Cause’ itu, tidak dijelaskan apa yang harus kita buat untuk menjadi ‘A Cause’ tersebut, tapi lebih dilihat dari resultnya, ‘A feeling or interest’. Berkaitan dengan perasaan dan interest, banyak dan variatif sekali yang bisa membuat semua manusia merasakan tertarik. Saya pribadi tertarik dengan good food! Jadi makanan yang enak barang tentu sangat sensasional buat saya!
Lain lagi teman saya, ia merasa tertarik jika melihat cowok berkacamata, jadi (hampir) semua cowok berkacamata menjadi sensasional baginya. Lain lagi dengan teman saya yang lain, Ia sangat excited dengan numbers, angka-angka itu menjadi sensasional baginya (bagi cewek yang naksir dia, silakan saja pakai baju yang dipenuhi dengan angka-angka, minimal dia pasti nengok!).
Semua manusia dan semua object, bisa menjadi ‘A Cause of such feeling or interest’, kalian secara pribadi adalah penyebab, dan tentu saja pasti ada banyak orang yang tertarik pada Anda, tidak perlu menjadi Dewi Persik dengan membuat gosip (sensasi).
Be Sensational!
(from February 2009 document)

Senin, 26 April 2010

We live to respond the standard questions from others



27 years, and 2 months aku sudah hidup di dunia ini. Aku dilahirkan dari perut si Mami, disusui sampai dengan sekarang sudah siap memproduksi bayi yang bisa disusui (hehehe...).

People say that manusia itu memiliki free will, keinginan bebas untuk menentukan, termasuk arah hidupnya, termasuk pilihan karir, pasangan, bahkan sampai dengan hal kecil seperti hari ini ingin memakai baju apa. Selama 27 tahun dan 2 bulan dalam hidup ini, pastinya aku selalu menghargai free will setiap manusia, walaupun di tengah segala keterbatasan, segala judgement, segala praduga dan segala pemikiran sosial lainnya. Di tengah fundamental manusia sebagai makhluk yang (katanya) tidak bisa hidup sendiri, apakah free will itu masih berlaku secara bebas? Ataukah memang dikotomi dan deskripsi free will itu sendiri yang sebetulnya tidak seluas dan se-ekstrim yang kita bayangkan?

Beberapa minggu lalu aku mengobrol dengan temanku, seorang perempuan yang kukenal semenjak SMP. Orangnya cukup outspoken dan cukup liberal. Saat ini dia sedang mengalami pergelutan dalam keluarganya, dimana ia merasa tidak cocok dengan cara mendidik orang tuanya yang mengakibatkan dia banyak 'protes'. Salah satu statement-nya yang ekstrim dan pernah dilontarkan kepada aku adalah,

'Gue pengen hidup sendiri, sebel diatur sana-sini ama nyokap gue!'

Hidup sendiri, sebuah pilihan unik yang sebetulnya sejalan dengan free will yang dimiliki manusia. Hidup sendiri tanpa praduga, tanpa judgement dan tanpa arahan dari satu manusiapun. Kita bisa memilih kita mau pakai baju/tidak hari ini, kita bisa memilih apakah kita mau teriak-teriak seperti orang gila, bahkan kita bisa memilih apakah kita mau hidup atau tidak.

Sosialitas manusia, keinginannya untuk diterima, keinginannya untuk conform dan mengikuti kelompok (bahkan teman saya dulu yang sering berkata 'Gue orangnya non conform! Gue tidak mau menjadi standar seperti orang lain, gue mau beda!' aku yakin bahwa dibalik pernyataan yang idealis itupun dia mencari kelompok non conform sebagai pendukungnya.), keinginannya untuk bisa berkomunikasi dan bahkan hidup dengan orang lain, terkadang hal itu tidak sejalan, dan tanpa disadari, kita kebanyakan hidup ditengah moral dan standar yang sudah diciptakan masyarakat (dan kita sendiri), dan tidak ada nilai absolut seperti apa standar hidup itu, bisa berubah dalam hitungan singkat.

Keinginan untuk diterima kelompok sebagai kebutuhan dasar manusia

Sepanjang hidupku, aku mengalami 2 periode klimaks dimana aku merasa lelah sangat dengan standar hidup yang secara tidak langsung dituntut dengan masyarakat. Aku sadar bahwa hampir setiap manusia menanyakan pertanyaan-pertanyaan standar, yang secara tidak langsung membuat manusia yang tidak bisa menjawab pertanyaan standar itu dengan jawaban standar menjadi tidak nyaman dan merasa diluar kelompok. Berdasarkan 2 periode klimaks (yang akan aku ceritakan nanti) berikut pertanyaan-pertanyaan standar yang memaksa kita untuk hidup mengikuti keinginan manusia lainnya :

1. Sudah bisa apa saja?
Biasanya ditanyakan pada Ibu seorang anak yang baru melahirkan kurang lebih beberapa bulan. Ini ditanyakan untuk mengkonfirmasi anaknya sekarang sudah memiliki ketrampilan apa saja (yang sebetulnya amat standar : bisa berjalan, bisa ngomong 'mama, papa', bisa lompat, dll).

2. Sekolahnya kelas berapa?
Ini biasanya ditujukan untuk anak kecil seusia TK atau SD. Seperti basa-basi karena mungkin agak bingung mau ngobrol apa dengan bocah kecil. Biasanya kalau sudah dijawab oleh si anak, si penanya akan merespon dengan 'Wah pintar ya!'

3. Mana calonnya?
Kalau ini ditujukan untuk seorang remaja yang sudah mulai akil balig dan bergaya agak canggung-canggung sedikit dan biasanya diajukan di acara-acara kumpul keluarga oleh 'senior-senior' yang lebih tua daripada remaja tersebut. Karena konotasinya remaja itu adalah masa-masa mulai percintaan, oleh karena itu pertanyaan ini juga sering diajukan untuk agak menggoda, dan secara tidak langsung memotivasi si remaja juga untuk segera membawa 'calon' untuk dipamerkan di acara keluarga tersebut. Pertanyaan ini akan terus berlanjut dan tidak akan pernah berhenti sampai dengan ada konfirmasi si objek menggandeng seorang cewek/cowok di acara keluarga.

4. Kapan kawin?
Ini pertanyaan lanjutan kalau pertanyaan nomor 3 sudah berhasil dipatahkan. Pertanyaan ini juga yang memotivasi objek untuk segera mendiskusikan tanggal perkawinan dengan pasangan. Atau malah bisa jadi pertanyaan untuk memikirkan kembali, 'apakah betul saya mau kawin dengan orang ini?' Pertanyaan ini baru bisa dipatahkan kalau konfirmasi undangan perkawinan sudah disebar. Hati-hati, pertanyaan akan santer bergema kalau kebetulan kakak kita kawin duluan, dan kita berperan sebagai seksi repot juga di acara perkawinan sang kakak. Variasi pertanyaan yang muncul 'Kapan nyusul?'

5. Sudah sampai mana persiapannya?
Kalau sudah secara informil kita jawab pertanyaan nomor 4 dengan 'rencana sih tanggal.......', hampir dipastikan pertanyaan selanjutnya adalah poin nomor 5. Jawabannya juga sebetulnya standar saja dengan 'sudah sewa gedung, sudah pilih katering, sudah pilih gaun.'. Pertanyaan ini juga menyatakan secara tidak langsung kalau kawin tamasya itu tidak umum di kalangan masyarakat. Persiapan yang dimaksud adalah yang sesuai trend kebanyakan : foto prewed, pilih gaun di bridal, resepsi di ballroom, pemberkatan pernikahan sesuai agama masing-masing, dan seringkali penggunaan WO (wedding organizer) juga jadi satu patokan standar.

6. Udah isi belum?
Pertanyaan ini muncul di peringkat 1 dalam daftar pertanyaan terbanyak aku saat ini. Yah maklum deh karena aku sudah menikah 1 tahun 3 bulan tapi sampai sekarang (memutuskan) belum hamil. Untuk sebagian orang keputusan kami mungkin agak aneh, tapi ini contoh free will yang aku coba buat dan tentu saja menurut kami memiliki anak itu bukan keputusan yang hanya bisa ditentukan oleh 'tekanan' pertanyaan sekitar. Namun lebih dari mentalitas dan hati kami pribadi. Untuk beberapa temanku yang sudah menikah dan juga belum punya anak, namun bedanya mereka sebetulnya sangat-sangat kepingin namun tidak bisa karena belum 'dikasih', pertanyaan ini memiliki tekanan 2 kali lipat yang sangat besarnya karena mereka sendiri juga jika bingung kenapa belum isi juga sampai dengan sekarang.

7. Kapan nambah adenya?
Jiaaahhh, jumlah anak berapapun tidak akan cukup. Baru saja brojol anak pertama, masih megap-megap dan ngilu-ngilu karena jahitan masih sakit, terkadang pertanyaan ini keluar dari mulut penjenguk.

8. Kerja dimana?
Ini pertanyaan kedua yang menempati top ranking pertanyaan aku sekarang :) Kenapa? Karena aku baru saja resign dari perusahaan IT terakhir tempatku bekerja dengan jabatan terakhir HR Manager. Sekarang aku sedang menikmati kehidupan menjadi freelance yang tidak dikejar-kejar waktu seperti orang gila seperti di tempat kerja sebelumnya. Aku baru menyadari bahwa banyak sekali value yang aku abaikan selama ini karena selalu tenggelam dalam kesibukan dan multitasking yang bervariasi. Jadi banyak sekali teman-teman dari ex perusahaan sebelumnya yang bertanya hal ini, dan aku jawab apa adanya 'Freelance'. Biasanya akan dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, 'Ooh, freelance apa ya?', as if freelance itu barang aneh dan bekerja 9 to 5 is a standard that is very acceptable and common in society.

Selama aku hidup dalam detik ini, tanpa disadari bahwa aku pun hidup dalam garis lurus yang sudah ditentukan oleh pertanyaan-pertanyaan berikut. Sebetulnya free will masih bisa kita terapkan dengan sempurna, ambil contoh ekstrim yang kualami adalah pada pertanyaan 'udah isi belum'. Dalam hal ini aku dan suami betul-betul merasa bahwa keputusan dan keinginan kamilah yang terpenting. Namun yang cukup melelahkan adalah menjawab beribu-ribu pertanyaan yang menghujani.

Opsi free will masih sangat terbuka lebar, kita bisa memiliki keinginan bebas sesuai dengan hati kita. Pada dasarnya manusia hanya hidup diantara 2 pilihan, mengambil opsi free will dengan konsekuensi kenyang dihujani pertanyaan 'standar' dan tatapan aneh like we're some kind of weirdo yang sangat nyeleneh, atau hidup tenang dan damai dengan mengikuti 'keinginan' semua orang yag direfleksikan lewat pertanyaan-pertanyaan tersebut, bahagia atau tidak itu kembali ke dalam hati Anda.

Aku sebagai manusia standar juga tidak menyangkal seringkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pemahaman mendalam lewat pengalaman yang melelahkanlah yang pada akhirnya sekarang membuat aku mencoba berubah, karena bukan tidak mungkin pertanyaan-pertanyaan itu tidak mengenakkan dan membosankan didengar oleh orang lain.

After all, terima kasih untuk semua penanya-penanya -ku. Dibalik segala kelelahanku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kalian, aku tahu pasti kalian sungguh sangat perhatian kepadaku :)


(catatan : 2 periode klimaks yang membuatku sangat lelah adalah ketika pertanyaan default 'kuliah dimana' bertubi-tubi ditanyakan disaat aku nganggur 1 tahun, dan 'kerja dimana' bertubi-tubi ditanyakan saat aku freelance seperti sekarang)



Minggu, 25 April 2010

Let's drive, rookie girl!


Aku baru mulai (belajar) menyetir (lagi) kira-kira satu bulan lalu. Kenapa aku katakan lagi? Sebetulnya semenjak kelas 5 SD si Papi dulu pernah nekad memberi aku mobil Jantan besar itu untuk aku coba-coba kendarai. Keren juga ya cilik-cilik dulu bawa Jantan abu-abu besar, walaupun hanya keliling kompleks UI Depok tapi rasanya keren banget!

Journey belajar mobil aku berlanjut sampai dengan SMA, kuliah, bahkan sampai kerja. Karena aku anak paling bontot di rumah, si Papi sepertinya sudah mendelegasikan tugas mengajari aku bawa mobil ke kedua kakakku. Akhirnya jadilah setiap kali aku sering merengek-rengek minta diajari belajar mobil sama kedua kakakku. Seringnya dulu aku belajar naik mobil Jantan versi baru (bukan si abu-abu yang aku ajak naik keliling di kompleks UI Depok). Mobil besar manual segede gambreng, kaca spionnya sudah tenggleng karena patah, motor kaca jendelanya sudah empot-empotan jadi kalau mau menutup kaca jendela musti ditarik pake tangan keatas (ini kaca yang supir saja loh, kaca penumpang di tengah sudah tidak bisa dibuka sama sekali), untuk injak gas dalam banget. Bak GI Jane aku sering kali belajar mobil pakai mobil sangar ini.

Ini dia si Jantan sangar, plus ponakanku yang berpose sangar juga :p

Walhasil, karena kondisi mobil manual rada ribet, si Jantan yang rada bohay dan berat, ditambah pengajarku yang senewenan suka teriak-teriak dan karakter aku yang panikan, akhirnya punah sudah itu keinginan yang tinggi untuk bawa mobil. Akhirnya terseok-seoklah aku jadi putri raja yang selalu disupirin kemana-mana.

Setiap kali ada orang menanyakan kenapa sih tidak bawa mobil, sebenernya aku rada bete, karena bisa dibilang aku belajar sudah cukup lama, tapi kok tidak bisa-bisa. Huh sebel! Awas nanti lihat saja kalau aku sudah bisa drifting....ceile!

Nah, selepas dari tempat kerja terakhir, aku sekarang jadi freelancer. Dengan alasan 'mobilitas' tinggi (masuk akal kan, karena sudah tidak bolak balik kantor saja setiap harinya, tapi lebih variatif), dan dengan ditambah muka rayu-rayu kepengen (mirip-mirip muka menjelang malam kalau lagi kronis...hoho..), aku rayulah si hubby untuk kembali menumbuhkan semangat menyetirku! Yak!!! Semangat!

Walhasil, berhasil-lah si hubby kubuat stress sepanjang minggu (ini mengutip kata-kata dia 'Senin-Jumat aku stress karena kerjaan, Sabtu-Minggu aku stress karena disupirin istriku)' hahahaha... Ternyata, hubby ku jauh lebih sabar dibanding kakakku yang senewenan itu n naik mobil matic jauuuuuuuh lebih enak. Tidak usah pusing mikirin 'Kalau muter gigi berapa ya?', 'Tanjakan kemiringan 30 derajat gigi berapa ya?', 'Aduh lampu merah! Ini harus masuk gigi1 lagi nanti, mati mesin ga ya?' dan banyak kepanikan dan kerepotan lain.

Minusnya setelah beberapa tahun tidak bawa mobil, kondisi lalu lintas Jakarta sungguh sangat tidak bersahabat! hau hau hau... :( kasihanilah para pengendara-pengendara rookie sepertiku. Setelah kurang lebih 1 bulan malang melintang di Jakarta dan sekitarnya, ini kesimpulanku sebagai pengendara rookie :

ou ou ou...Jakarta-ku yang macet!


1. Pengendara di Jakarta semuanya tidak sabaran.
Aku bingung, kadang-kadang siapa yang salah, jelas-jelasan tulisan di papan (tol terutama)dibilang kecepatan maksimal 80 km/jam. Aku sudah menyetir dengan kecepatan 80km/jam, tetap saja itu di belakang din din din din melulu.

2. Motor dan bis adalah musuh terutama pengendara rookie.
Ohhh seringkali di jalanan aku berdoa, 'seandainya saja semua pengendara tertib menyusuri marka dan tidak kepo mengganggu-ganggu pengendara, pasti hidupku akan lebih tenang. Perilaku aneh-aneh mereka akan aku jelaskan di poin berikutnya.

3. Perilaku aneh motor :

ini baru 4 isinya, biasanya 5 orang!

- tiba-tiba nongol mepet di sebelah kiri/kanan kita. Sumpeh ini bikin aku kaget banget, apalagi kalau si hubby tiba-tiba teriak 'awas!'
- ngeng ngong jalan saja di tengah-tengah dengan santai dan bikin kagok (paling bikin senewen lagi kalau muatannya ajubile banyaknya, maksimal yang pernah saya lihat 5 orang!! 1 Bapak, 1 Ibu, anak kecil 2, 1 anak masih bayi)
- entah firasat mereka memang tajam atau merasa raja jalanan. Karena mereka tidak pernah pakai spion kalau belok. Tiba-tiba miring-miring saja... wadawww
- suka sekali nyelip-nyelip. Ck ck ck...kalau itu kolong mobil bisa dimasukin sama dia, dimasukkin juga kali yah?
- lampu-lampunya suka diganti bikin pusing! Baru saja kejadian kemarin, astaga naga itu lampu rem-nya diganti warna kuning. Aku sampai kaget ternyata dia nge-rem toh?

4. Perilaku aneh bis :
- jedah waktu antara memberikan sen dan belok = 0 detik! Aku rasa kebanyakan pengendara bis itu agak impulsif yah?
- kalau mau pindah jalur bisa 3 jalur sekaligus! Ini kejadian nyata yang sering aku lihat di depan sampoerna strategic square sudirman. Buset, dari jalur paling kiri si bis mau masuk ke jalur cepat. Alhasil badannya yang buesar itu melintang di sepanjang jalur lambat sudirman. Keren deh pokoknya!

Begini perilaku bis yang suka malang melintang!

- mungkin karena badannya besar, bis itu suka pede jaya dan cuek saja jika tiba-tiba badannya miring kesana kemari. Aku paling parno kalau sedang di tol, jika sedang ada di kanan bis, kepinginnya cepat kebut saja supaya bisa melewati bis. Karena tiba-tiba dia suka miringgggg ke kanan....tinggal si hubby yang panik 'eh kiri kiri....!' Laa situ enak badannya besar kalau kesambet cuma lecet, lah aku...:(
- kalau meminjam istilah si hubby, bis kota itu banyak yang lebih cocok disebut 'tempat sampah jalan'. Karena bentuknya yang sudah sungguh sangat tidak jelas, buluk, karatan, besar, bobrok, dan suka mengeluarkan 'gas beracun' yang hitammmmm....

5. Kecepatan menginjak gas atau nginjak kopling n gas lebih lambat daripada menekan klakson waktu lampu merah. Kadang suka stress sendiri, ya ampun baruuuu aja yah itu hijau 0,0000000999 detik lalu, itu klakson sudah ramenyaaaa....

6. Solidaritas pejalan kaki sangat tinggi, sampai-sampai mereka merasa memiliki kekuatan tak tertandingi untuk melawan mobil melintas di tengah jalan.

Coba dihitung berapa banyak pejalan kaki yang berjejer!

Maksudnya, seringkali kalau di jalan raya itu di pinggir jalan banyak pejalan kaki yang berjalan berjejer, entah berdua atau bertiga sampai memakan badan jalan. Mungkin bagi mereka chit chat di tengah jalan itu lebih penting untuk membina solidaritas daripada keselamatan bersama.


7. Bekasi adalah salah satu kota yang sangat tidak ramah untuk pengendara mobil (pemula). Panasnya melebihi Jakarta, semrawutnya juga tidak tahan! Di kota ini ada angkot, bis, motor yang buanyaaaakkkkk sekali, becak (yang suka melawan arah!), gerobak jualan (yang juga melawan arah dan tiba-tiba suka menyebrang di tengah jalan), truk, pejalan kaki yang tiba-tiba menyebrang dan yang solidaritasnya tinggi), tukang jualan yang suka nempel-nempel mobil, tukang minta-minta, sepeda, dan bentuk-bentuk bergerak lain yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku sudah 3 kali pp Jakarta-Bekasi. Di kunjungan pertama aku sudah diberi oleh-oleh sundulan motor waktu lampu merah :(

8. Menyetir di Jakarta = Pasti bisa menyetir di negara lain; Menyetir di negara lain = belum tentu bisa menyetir di Jakarta. Dua orang sample teman saya, satu orang di Australia. Dulu dia tinggal di Jakarta dan ketika di Jakarta tidak bisa menyetir. Setelah pindah ke Australia dia belajar menyetir dan sekarang sudah bisa. Terakhir dia mengakui kalau ke Jakarta dia tidak mau bawa mobil, takut! Satu orang lagi tinggal di Amerika. Dulu dari SMA dia sudah bisa menyetir (soalnya aku suka nebeng). Setelah kuliah dia pindah ke Amerika. Ketika akan balik ke Jakarta, Mamanya berpesan, 'nanti loe balik Jakarta jangan nyetir ya! Parah nyetir di Jakarta, bisa bunuh orang!!'

9. Jalanan di Jakarta buanyak banget 'komedo'nya. Maksudnya lubang-lubangnya, si hubby berapa kali teriak-teriak, 'lubang!!', tapi dengan kemampuan (sok) menghindar yang pas-pas an, tetap saja itu lubang kelindes. Hehe...

Komedo jalanan yang gede banget!

10. Di Jakarta banyak sekali orang-orang yang berangkat dari teknik menyetir seperti saya (Kids, don't try this at home) : SIM nembak (disaat kemampuan menyetir baru 20% - lolos tanpa tes teknis, tapi lolos dengan tes 'duit sogokan'), dengan kemampuan menyetir pas-pas an, terjun ke jalanan dan bikin kagok pengendara lain.

Berhati-hatilah para pengendara (rookie). Ibarat kita jalan kaki saja seringkali disalip, disenggol, empet-empetan, kesandung, banyak lubang, banyak genangan, banyak godaan, ada yang jalannya cepat, ada yang lelet, apalagi kalau menyetir mobil. Lebih ribet!

Oh help me God, semoga suatu saat nanti aku bisa jago menyetir dengan gape (di Jakarta), setidak-tidaknya seperti suamiku deh, tidak perlu sampai drifting seperti di film-film itu :p.


Jumat, 23 April 2010

Are we trying to teach our children English or what?


ini cara bermain Domikado

Karena kadang-kadang saking kepingin jadi trendsetter seperti Mbak Debby Sahertian, aku suka asal membuat bahasa gaul sendiri. Kalau ketahuan Mbak Debby bisa-bisa aku diketawain kali ya? Atau malah diajakin partner karena terlalu kreatif? *ngarepberat.com.

Salah satu bahasa asal yang suka aku jeplak itu turunan dari kata Gym. Maklum sekarang sedang giat-giatnya ikut Gym lagi nih, berhubung karena faktor U rasanya badan itu gampang kaku-kaku!

Nah dari kata Gym ini, kadang kalau sedang mengajak teman Gym, aku suka bilang,

'Eh, jimi-jimi takabet yuk nanti sore...'
(baca : Eh, Gym yuk nanti sore...)

Lupa awalnya bagaimana tapi yang pasti kata-kata aneh itu melintas di kepalaku saja tiba-tiba. Baru saja kemarin aku sadar sumbernya dari mana.

Itu kan mainan aku waktu aku SD! (kurang lebih 20 tahun lalu oi!).
Judul permainannya 'Domikado', ada yang masih ingatkah?

Jadi cara bermainnya adalah, supaya seru permainan ini diikuti minimal 3 orang, itupun sebenarnya cuma jadi 1 putaran!

Nah semua peserta duduk/berdiri melingkar lalu masing-masing telapak tangan dibuka di samping dimana telapak tangan kiri ditaruh dibawah telapak tangan kanan temannya yang di sebelah kirinya. Telapak tangan kanan ditaruh diatas telapak tangan kiri temannya yang disebelah kanannya. Nah, sambil bait lagu dinyanyikan, telapak tangan kanan menepuk telapak tangan kanan teman sebelah kirinya. Begini ya bait lagunya, tolong diperhatikan baik-baik. Ini sepanjang pengetahuan dan pendengaran aku waktu SD, tapi aku ga dikategorikan budeg loh!

'Domikado mikado eska....eskado...eskado bea beo...cis cis... One, two, three, four, five, si, seven, eight, nine, ten!'

Nah pas di kata 'ten', yang giliran memukul harus berlomba memukul tangan kanan sebelahnya secepat mungkin, sambil sebelahnya berlomba secepat mungkin menghindar. Yang tidak berhasil memukul/menghindar adalah si looser dan dia keluar dari permainan.

Begitu terus sampai akhirnya anggota permainan tinggal dua orang. Lalu setelah sudah dua orang barulah dua orang ini diadu sambil gaya menepuk tangan satu sama lain dengan nyanyian berikut,

'Dam dam jeli dam dam oek oek... Sim sim jeli sim sim oek oek... Jimi jimi takabet takabet is dead...!'


Ketika ngomong 'dead' itu berarti tandanya mereka harus suit untuk menentukan pemenang!

Ternyata dari situ istilah gaul Gym aku berasal yah?

Akhirnya aku baru saja sadar di umur yang sudah 27 tahun ini, dulu hampir setiap hari (seminggu sekali deh...kesannya dulu waktu masih SD main terus ya? :p) aku menyanyikan permainan itu tanpa tahu artinya sampai dengan hari ini! Kira-kira bahasa apa ya? Minimal sih lumayan keren, kita diajarkan menghitung dari one sampai ten. Oh iya dan sama satu lagi 'is dead'. Hahaha...

Sebenarnya ada lagi 1 permainan, tapi kayaknya yang satu ini dulu agak jarang dimainkan oleh teman-teman aku deh. Tapi aku dulu suka sekali memainkannya dengan temanku, namanya Vira. Ini permainannya untuk berdua sambil tangannya ditepuk-tepuk. Lagunya begini (saya menulis apa adanya juga sesuai yang saya lafalkan dulu) :

'Aladebleksim...a'am debeleksim... Situ my Bonny... my Bonny my... my...my...'

Tapi ada verse-2 nya yang ternyata sungguh sangat meaningful dibanding verse-1! Begini liriknya :

'Pangeran Charles... dan Putri Diana... naik kereta... bunyinya tut...tut...tut...'

Saya jadi berpikir, begitu banyak challenge kita nanti sebagai orang tua. Di satu sisi sebetulnya tidak masalah ketika kita mengajarkan sebuah permainan yang 'meaningless' bagi anak-anak seperti ini. Minimal mereka akan diajarkan bernyanyi atau mengenal melodi dan bersosialisasi lewat permainan dengan teman-temannya.

Namun jika dilihat dari contoh 'hidup' yang terjadi seperti saya, sepertinya ini bisa menjadi 'pembodohan' sederhana. Mengapa? Bayangkan, saya membutuhkan waktu 20 tahun kemudian untuk menjadi kritis dan bertanya 'Apa makna bahasa lagu itu?'. Sebetulnya ada dua kemungkinan lain sih, apakah memang saya yang 'telat mikir' alias telmi :p atau betul saya rada 'budeg' dulu jadi mendengar lirik lagunya seperti itu.

Terlepas dari itu, yang saya rasakan sungguh memang ketika masih kecil dulu banyak sekali hal yang masuk ke kepala saya dan menyerap seperti spons. Contohnya adalah lirik lagu ini, walaupun tidak bermakna tapi tetap melekat di kepala saya. Kita sekarang pasti akan lebih sulit menghafalkan kata-kata yang tidak bermakna dibandingkan yang bermakna.

Jadi, bagaimanapun terimakasih untuk pencipta permainan domikado dan semacamnya karena telah mengajarkan saya dan teman-teman untuk membina persahabatan lewat permainan sederhana itu. Mari untuk selanjutnya kita bisa lebih mendidik anak-anak kita dengan lebih bermakna.