Looking from the 'Kepo' eyes

Looking from the 'Kepo' eyes
the model is not me, i'm just the photographer of the photographer :)

Kamis, 27 Mei 2010

Aku=Sensasi




“Apakah memang Dewi Persik sengaja selalu membuat sensasi untuk mendongkrak popularitasnya?”

Tadi pagi begitu ungkapannya ketika infotainment wara-wiri di pagi hari menemani waktu beberes saya sebelum pergi beraktivitas. Pertanyaan retoris yang diucapkan oleh si pembawa acara tidak pelak membuat saya menengok sebentar. Oh lagi-lagi dia membuat berita, kali ini soal kawin siri nya. Tapi terlepas dari beritanya tidak terlalu penting sebenarnya, tapi saya lebih tertarik dengan satu kata menyolok yang disebutkan oleh si pembawa acara, sensasi.
Kalau dilihat dari artinya, banyak sekali arti sensasi itu, kebanyakan ada yang berkaitan dengan reaksi fisiologis, tapi untuk konteks ini coba saya ambil dari definisi terdekat dengan cerita si goyang gergaji diatas.

A cause of such feeling or interest (www.dictionary.com). Atau dengan kata lain, penyebab sebuah perasaan atau ketertarikan. Sudah barang pasti sensasi yang disebutkan mengenai Dewi Persik bisa dikategorikan penyebab sebuah perasaan atau ketertarikan (setidak-tidaknya bisa membuat saya menengok ke arah TV sebentar ketika sedang mengeringkan rambut :P). Tapi kalau dilihat-lihat lagi, soal sensasi ini jadi membuat saya berpikir lebih dalam, kenapa ya manusia yang membuat sensasi bisa menjadi populer? Kalau memang begitu, kita semua butuh menjadi sensasi, setidaknya sebagai pengakuan diri bahwa kita itu ‘ada’.

Kalau dipikir-pikir sepanjang hidup, teman-teman saya memang tidak ada yang lepas dari sensasi. Dari jaman SD pun waktu itu ada teman yang bikin sensasi dengan pacaran sama orang SMA (sekarang saya baru sadar kalau itu bisa dibilang Pedofilia, dulu sih kelihatannya keren banget tuh si Joan, sepertinya dewasa banget bisa ditaksir anak SMA). Hasilnya tentu saja, si Joan jadi menaikkan kelasnya di antara teman-teman SD menjadi ‘high quality jomblo’, menggeser normatif sedikit bahwa anak SD fokusnya bukan hanya bermain saja, tapi sudah boleh mulai pacaran. Toh dia berhasil membuat image baru minimal bagi teman-teman dekatnya, tak pelik salah satu teman peers nya, Dian, langsung ikutan mendaftarkan diri dalam perlombaan model catwalk setelah melihat Joan memamerkan foto2 pose nakal dengan lipstick merah dan gaun hitamnya, persis seperti model sungguhan (bukan murid SD).

Waktu SMA lain lagi, entah kenapa bandel itu bisa membuat seseorang sangat populer, dan yang lebih membingungkan lagi, perilakunya ditiru oleh teman-temannya, yang labelnya seharusnya alim. Sebut saja si Leony, cantik memang, wajahnya oriental dengan tubuh langsing. Bertemannya dengan geng (you know who they are…) yang kontroversial, merokok sembunyi-sembunyi, pulang sekolah langsung kelayapan, madol dari sekolah. Terakhir terdengar kabar bahwa dalam 1 bulan, absent kehadiran di kelasnya hanya sampai pada angka 10 hari! Sisanya tentu saja dihabiskan dengan madol dari sekolah, pagi-pagi ceritanya sarapan di tukang bubur Abang Iman, setelah bel sekolah berbunyi, tentu saja bukannya masuk ke kelas, tapi tancap gas masuk ke school of sociality, the malls. Tapi toh gayanya itu tetap saja ditiru, dan Ia tetap jadi pembicaraan sekolah sebagai ratu lebah. Kalau dibuat kurva normal, mungkin dia yang menggeser poin jumlah kemadolan dalam satu sekolah, dari 0-15 menjadi 5-30. Okay, I’m confessed waktu itu juga saya juga salah satu yang kepingin ikut-ikutan madol, walaupun diluar kebiasaan tapi rasanya memang memberikan sensasi! Minimal hampir merasa disetarakan dengan geng sensasional (bandel) itu.

Kalau diingat lucu memang, stigma dulu sebagai remaja, yang kata para ahli psikolog adalah masa mencari jati diri, penuh pengaruh dari pihak luar sehingga tidak heran teman-teman SMA yang alim itu ikut-ikutan mencoba bandel dengan madol dari sekolah. Tapi kalau melihat fenomena sensasi yang kutipannya saya lihat tadi pagi sebelum ke kantor, sepertinya masa mencari jati diri dan mencari sensasi sudah jadi proses yang continous. Coba tengok sekitar Anda dan cari seorang yang memiliki aura selebritis (baca sensasional). Kalau disuruh memilih, saya agak bingung karena semua rekan di sekitar saya semuanya memancarkan aura selebritis yang berbeda. Persis seperti hewan yang mengeluarkan feromon untuk menarik pasangannya. Begitu juga manusia, semuanya mengeluarkan ‘feromon’nya sendiri, untuk menunjukan bahwa dirinya exist, setidaknya bagi peersnya. Di peers teman saya, bahkan salah satu teman paling pendiam pun sudah menjadi sensasi, Ia menjadi populer di kelompok sebagai si Paling Pendiam, yang selalu pasrah saja kalau dicela temanya.

Terkadang kita berlomba-lomba untuk menjadi sensasional. Tapi kalau menilik lagi dari definisi Sensasi tidak dijelaskan apakah ‘A Cause’ itu, tidak dijelaskan apa yang harus kita buat untuk menjadi ‘A Cause’ tersebut, tapi lebih dilihat dari resultnya, ‘A feeling or interest’. Berkaitan dengan perasaan dan interest, banyak dan variatif sekali yang bisa membuat semua manusia merasakan tertarik. Saya pribadi tertarik dengan good food! Jadi makanan yang enak barang tentu sangat sensasional buat saya!
Lain lagi teman saya, ia merasa tertarik jika melihat cowok berkacamata, jadi (hampir) semua cowok berkacamata menjadi sensasional baginya. Lain lagi dengan teman saya yang lain, Ia sangat excited dengan numbers, angka-angka itu menjadi sensasional baginya (bagi cewek yang naksir dia, silakan saja pakai baju yang dipenuhi dengan angka-angka, minimal dia pasti nengok!).
Semua manusia dan semua object, bisa menjadi ‘A Cause of such feeling or interest’, kalian secara pribadi adalah penyebab, dan tentu saja pasti ada banyak orang yang tertarik pada Anda, tidak perlu menjadi Dewi Persik dengan membuat gosip (sensasi).
Be Sensational!
(from February 2009 document)

Minggu, 23 Mei 2010

Women are Masochist!



Masochist digolongkan ke dalam suatu kelainan dimana manusia senang menyakiti dirinya sendiri, biasanya secara fisik. Entah itu dalam bentuk memukul-mukul diri sendiri, menyambuk diri sendiri. Sumtimes the divariasikan dalam bentuk yang agak 'kinky' sebagai variasi seksual misalnya perempuan yang suka diborgol atau dicambuk ketika berhubungan seks (ini mah karena kebanyakan nonton film xxx jadi tahu beginian yah haha...).


Kita seringkali mengejek orang itu Masochist karena menganggap hal itu negatif, but the truth is, sometimes i wonder, perempuan itu memang agak-agak kena Masochist sindrom, tapi tentu saja dengan kadar yang berbeda-beda yah.


I was inspired because my journey back on last Saturday, ke suatu tempat di area Pulo Raya. What did i do? Waxing!


Konon setelah browsing -browsing di internet, tersebutlah sebuah salon Waxing yang terkenal yaitu Narsih Salon. Di hari Sabtu lalu akhirnya meluncurkah aku dengan satu orang teman, Claudia yang ternyata langganan disini. Apa yang kami berdua wax itu off the record yah, silakan dibayangkan saja sendiri (hihihi...).

Pergi ke Narsih salon seperti serasa 'berjuang menuju ke tempat pembantaian'. Kenapa tidak? Pertama, rencana ke Narsih salon ini sudah tertunda selama 2 minggu sama Claudia. Sehingga di setiap Jumat-Jumat yang tertunda itu aku selalu merasa deg deg ser seperti sapi mau dibawa ke tempat pemotongan. Sampai pada hari Sabtu lalu, yang tadinya kita janjian jam 10.00, tertundalah jadi sampai jam 12.00. Setelah di malam sebelumnya rada-rada grogol mau 'dibantai' di hari Sabtunya penantian ditambah lagi 2 jam diluar ekspektasi.


Ciattt, akhirnya, berangkatlah kita ke jalan terpencil itu... Rumahnya persis terletak di turunan jalan Pulo Raya, dan karena bentuknya turunan....depan rumahnya banjirrrrrr!!! ehem...

Nyebur lah mobil ATOZ nya Claudia ke dalam banjir itu (demi dibantai) dan mencari parkir yang agak penuh karena di depan rumahnya itu juga banyak mobil-mobil yang ngerobok banjir (demi dibantai). Tapi, walaupun kita dapat parkir, yang membingungkan itu bagaimana jalannya ke rumahnya? Karena jalanan menuju sana itu banjir sebetis! Setelah bertanya sama Bapak tukang parkir, dia jawab begini,


"Gampang neng, pake sepatu boot, saya udah siapin nih!"..



Sepatu bootnya persis seperti ini!


Boot sih emang lagi ngetren, tapi serius loh pake boot kesana??? (demi dibantai).


Karena kita Masochist dan sudah siap dibantai, akhirnya ganti-gantianlah kita pake boot yang biasa dipakai untuk ngebersihin got itu...sempet aku ketawa-tawa mengejek Claudia karena bootnya matching sama warna bajunya. Haha....


Berhasilah kita menyebrangi lautan (untuk dibantai) dengan sepatu boot yang dalamnya berasa agak basah-basah dikit....huhuu...ga tau deh sudah kecelup berapa kaki baik yang mulus maupun agak gradakan ...


Sesampai disana, sudah ada beberapa cewe-cewe cakep yang sudah siap (untuk dibantai). Aku dan Claudia menunggu tidak begitu lama, paling juga 10 menit. Sempet kaget waktu nama aku dipanggil duluan, 'Segitu cepatnyakah?? (untuk dibantai)'
Akhirnya aku dibawa ke ruang belakang dan berlangsunglah proses itu.....










(beberapa wajah yang mengekspresikan bagaimana wajahku waktu itu).

Yes it hurts!


Aku sampai ngoceh dan nyampah di BB sama temanku walaupun dia tidak balas, demi untuk mengalihkan perhatian supaya tidak 100% ke 'proses kerja'nya.

Mamamiaaa....


But, will i do that again?


Hmmmm considering the results....YES!!!


Will u go through the hurts, the gregariousness, the confusion, the flood and the others 'the'?


YES, why?

You will struggle to face the process again, feel the pain and even pay for it (and sometimes tipping) for the painful experience again???


YEPPPPPPP!


Oh My...


kalau bukan Masochist apa artinya ini ya?


This is just one example of Masochism in women. Ungkapan Beauty is Pain memang betul adanya. Menjadi wanita seutuhnya untuk menjadi sosok ideal yang menjadi identitas diri (yang diakui keabsahan dan kewanitaannya oleh pria) membutuhkan 'modal' yang tidak sedikit, baik secara materiil, moril, mental.


Sebut saja beberapa proses yang sudah dijalankan wanita to 'enjoy' such pain untuk bisa diterima oleh kaum pria.


Waxing of course (Bayangkan Bikini Wax, jika Anda pernah menonton film Mel Gibson - What Women Want, adegan dimana dia mencoba waxing bulu kaki dan dia berteriak kesakitan, menurut aku waxing bulu kaki itu tidak sakit!),
Facial (apalagi kalau sedang jerawat bantet di hidung....huhu..),
Diet (ini siksaan yang lumayan berat, karena aku sangat suka makan, membatasi makan itu luar biasa beratnya)

Sedot Lemak (pernah lihat jarum untuk sedot lemak???),


Jarum untuk sedot lemak...hiiiiii!

Hair Extention (i really don't understand this. I feel that it's very gross to have another human hair added to our hair! Dan kita harus repot2 keramas dengan hati-hati banget!),

'Ironing' our hair (panasssssssssssss......!),
Pakai roll rambut (sampai kadang-kadang rela tidur rada 'terganggu' karena mengganjal dengan roll rambut ini),

Pakai stagen setelah melahirkan ( konon ada temanku yang setelah melahirkan pakai stagen selama 2 bulan full!!!!)
Wearing make up everyday (segitu saking terbiasanya, aku malah ngerasa lengket kalau tidak pakai bedak!)

Skin bleaching (pernah mengalami pengelotokan kulit dengan obat sehingga muka kita seperti ular? it's torturing man!)

Tato alis, tato bibir dan tato-tato lainnya di sekitar muka...(aww...tato badan aja rasanya sakit, bayangkan ini bibir! hiks..)

Melahirkan ... (tentu saja ini adalah ultimate perjuangan wanita. Diawali dengan 9 bulan mengandung yang diiringi oleh mood swing, appetizer swing, badan yang rasa dan bentuknya juga sama tidak enaknya, ngidam, dan proses pre melahirkan s/d post melahirkan yang sungguh sangat sakit dan melelahkan ...ini katanya, karena saya belum pernah hamil dan melahirkan.)


Yah, begitulah hidup wanita. Demi mendapatkan self image sebagai wanita sempurna yang seringkali di brain wash oleh iklan, artikel ataupun pendapat langsung/tidak langsung dari kaum Adam.



Yes, man, we do this for you.